Grab the RSS feed

#VisitSamarinda


Samarinda yang menjadi ibu kota Provinsi Kalimantan Timur ini memang masih dalam tahap pembangunan, penataan masih dilakukan disemua sektor. Meski sebagai ibu kota, Samarinda masih belum semegah Surabaya maupun Jakarta. Tapi tenang samarinda itu kota yang unik dan menarik untuk disinggahi setiap sudutnya. Jika kita satu hari berada di Samarinda ada beberapa tempat yang dapat  kita kunjungi.

Yuk, kita mulai dari masjid Islamic Center, Masjid ini menyimpan suasana klasik tersendiri, Arsitekturnya megah dibalut cahaya yang jika malam akan terlihat romantis, suasananya pun terasa manis semanis senyum monalisa tentunya.  Selain arsitekturnya yang menarik disini kita juga dapat melihat view kota samarinda yang menakjubkan dari ketinggian, dengan membayar Rp.10.000 kita dapat masuk ke menara asmaul husna, menara setinggi 99 meter ini didalamnya terdapat sebuah museum islami dan tentunya sampai di puncak menara kita akan disuguhkan view kota Samarinda yang megah. Nah menakjubkan bukan?


Islamic Center
Setelah puas menikmati kemegahan masjid maha romantis kita menggunakan angkutan umum  menuju pasar tradisional citra niaga yang saya sebut ini pasar klasik. kenapa? Karena pernah mendapatkan penghargaan Aga khan award for Architecture terbukti kan kalau samarinda memang kota yang kreatif. Lokasi pasar tradisional citra niaga tepat didepan pelabuhan samarinda dan juga berdekatan dengan pasar pagi serta  masjid raya darussalam, tentunya lokasi ini menjadi urat nadi perdagangan warga samarinda dari tempo dulu hingga kini. Selain kita dapat berbelanja suvenir khas samarinda seperti sarung samarinda, dompet manik-manik, dan aneka kerajinan lainnya kita juga dapat menjumpai sebuah lapangan di tengah bangunan pasar yang pada malam tertentu sering digunakan sebagai tempat pertunjukan. Nah sudah berbelanja nyaman dengan aneka pilihan, ditambah bentuk pasar yang klasik plus jika beruntung dapat menyaksikan pertunjukan dan berbaur dengan warga lokal kurang klasik apa lagi coba?

citra niaga foto by http://lpse-info.samarindakota.go.id/
Pastinya setelah jalan-jalan dari Islamic center dan berebelanja di pasar tradisional citra niaga kita merasa lelah dan butuh sentuhan ketenangan untuk mendinginkan pikiran dan sejenak menghapus lelah. Dimana kita bisa mendapatkannya? Jawabannya adalah mahakam. Ya, sungai luas yang membelah daratan kalimantan timur ini memang sudah tersohor namanya. Rasanya jika ke kalimantan timur namun belum melihat dan mencumbu lebih dekat dengai sungai ini sepertinya kita belum ke kalimantan timur dan kurang sah rasanya. Seperti ke Mekkah namun belum bertemu dengan ka’bah atau ke Jawa tapi belum ke Borobudur atau mungkin ke Paris tapi belum ke menara eifel dll. Sebenarnya rute selanjutnya kita bisa melalui jalur darat yakni melewati jembatan mahakam tapi ada baiknya kita tak hanya sekedar merasakan nuansa mahakam dari tepian saja, maka dari itu kita menuju pelabuhan dan bernegosiasi dengan pemilik perahu di pelabuhan depan masjid raya Darussalam agar mau mengantar kita menuju seberang karena ada destinasi lain juga yang akan kita tuju.

We Are Agen Pesut Mahakam, foto dari kamera mas Rakhmad
Moment yang pas saat menyebrang sungai mahakam dengan perahu adalah saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Kita akan disuguhi pemandangan senja yang maha kaya. Bukan dari gunung atau laut tapi dari sungai yang bernama mahakam. Bulatan orange bersama semburatnya melukis langit nan elok bersama keasrian suasana perkampungan ditepian yang bahan dasar rumahnya masih menggunakan bahan kayu. Kita akan terus dimanjakan dengan pemandangan yang maha indah ditambah hembusan angin serta cipratan air menjadi irama yang menenangkan jiwa. Berbagai aktivitas penduduk pun dapat kita jumpai seperti adik-adik kita yang menceburkan dirinya ke sungai dengan segala keceriaanya dan ibu-ibu yang menimba air dari sungai serta bapak-bapak yang masih sibuk diatas sampannya.Ya, Mahakam selalu indah.
Sunset Mahakam, foto dari kamera mas Rakhmad
Sampai di Samarinda Seberang dan turun dari kapal kita menuju lamin adat. Lamin adalah rumah tradisional suku Dayak, rumah panjang yang dahulu di diami beberapa kepala keluarga ini dapat kita jumpai di Samarinda Seberang yang sekarang telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh dinas kebudayaan dan pariwisata kota Samarinda. Tak berhenti sampai situ,  ada sebuah gang di samping lamin. Disitu terdapat perkampungan yang namanya kampung tenun. Kenapa kampung tenun? Karena mayoritas yang tinggal disitu adalah berprofesi sebagai penenun khususnya tenun sarung Samarinda. Alat tenun yang digunakan pun masih tradisional  bukan mesin. Harganya memang cukup menguras kantong tapi sepadan dengan perjuangan ibu-ibu yang menenun berhari-hari untuk menghasilkan sebuah sarung berkualitas. Selain dapat  melihat ibu-ibu yang menenun kita juga dapat berinteraksi langsung melihat berbagai motif sembari mendapat banyak cerita tentang motif dan sejarah disini. Tenang masyarakat disini ramah dan sangat terbuka. Di akhir cerita kita akan di beri kartu nama ibu-ibu yang telah memberikan kita banyak informasi siapa tahu suatu saat tertarik untuk membeli sarung, kita dapat menghubunginya.
 
Penenun, foto by kidnesia.com
Tak jauh dari kampung tenun kita menuju makam Daeng Mangkona yang konon adalah pendiri Samarinda. Sembari mendo’akan Daeng yang telah tenang disisi-Nya kita juga dapat melihat ukiran arab pada nisan yang terbuat dari kayu ini serta dapat belajar sejarah berdirinya Samarinda yang berasal dari kata Sama Rendah yang artinya tak ada pembedaan baik penduduk asli maupun pendatang semua sama dan satu saudara. Jika dewi fortuna berpihak kepada kita maka kita akan menjumpai penjaga makam yang bersedia dengan bakti luhurnya menceritakan sejarah makam di masa lalu. 

Ziarah bapak Walikota Samarinda beserta staff, foto by www.bkdsamarinda.web.id
Berjalan beberapa kilo dari makam maka akan kita jumpai sebuah masjid bernama Sirathal Mustaqim. Bertolak belakang dengan Islamic center yang di bangun dengan arsitektur dan bahan modern masjid ini justru dibangun dengan bahan dasar kayu ulin, tapi justru itulah letak keistimewaan masjid ini. Masjid ini di bangun pada tahun 80an dan didaulat menjadi masjid tertua di Samarinda. Ketika kita melangkah pada lantai masjid yang terbuat dari kayu maka akan muncul irama khas yang terdengar merdu di telinga, dan didalam masjid ini suasananya sangat sejuk bisa jadi karena efek dari bahan bangunan yang terbuat dari kayu dan selain itu ini rumah Tuhan. Sejuk.
Masjid Sirathal Mustaqim, masjid tertua di Samarinda foto by bujangmasjid.com
Setelah merasakan suasana kuno di masjid Sirathal Mustaqim kita menuju ke Jembatan Mahakam. Jembatan yang menghubungkan Samarinda kota dengan Samarinda Seberang ini memiliki jalur tersendiri buat pejalan kaki. Dari sisi jembatan kita dapat menikmati luasnya mahakam beserta deretan rumah penduduk di tepian. Dari sini kita juga akan disuguhkan kerlap-kerlip cahaya dari Masjid Islamic dan cahaya lampu kota. Dan yang tak kalah indah saat cahayanya menyatu dengan liukan gelombang tenang air mahakam.
Dari Jembatan Mahakam kita menuju masjid  Islamic Center titik dimana kita memulai perjalanan siang tadi. Tentunya masjid islamic center menjadi penutup perjalanan kita yang mengesankan. Jika tadi kita menikmati islamic dengan cahaya matahari yang masih tinggi saat ini kita menikmati romansa islamic center yang disiram cahaya bulan. Nikmati setiap sudut masjid ini di malam hari singgahi dimana cahaya yang ingin dituju. Rasakan dan enjoy Samarinda.
Samarinda kota Tepian by wikimedia.org
Masih banyak sebenarnya destinasi yang bisa kita kunjungi ketika berada di Samarinda. Mau wisata alam Samarinda punya Air Terjun Berambai, Air Terjun Tanah Merah, dan Kebun Raya Unmul. Mau wisata sejarah Samarinda punya makam Daeng Mangkona. Mau wisata religi Samarinda punya Islamic Center, Masjid Sirathal Mustaqim, Kelenteng, Gereja St. Maria, Pura Jagat Hita Kirana. Mau wisata Budaya Samarinda punya Desa Budaya Dayak di Pampang mau wisata kuliner ada Kampoeng Lambung Mangkurat. Komplit. 

#visitsamarinda
 

Sesuatu yang Kusebut Cinta



Aku masih terpaku pada cahaya yang menyembul didepanku, ku biarkan cahaya itu menyirami wajah yang telah berjuang melawan serangan dingin pagi tadi. Perlahan, semesta mulai memberikan kehangatannya yang mulai menelisik memasuki pori-pori kulitku. Menikmati saat-saat terindah matahari mulai bekerja, merasakan suasana kota yang masih tidak berdetak sempurna. Aku selalu tersenyum jika memandang Jembatan mahakam yang terbentang menghubungkan dua tempat itu. Selalu terlarut dalam buaian bisikan-bisikan indah ketika memandangi Jembatan itu. Aku tidak pernah tahu apa istimewanya jembatan itu, mengapa setiap orang yang baru bertandang di Samarinda selalu penasaran dengan jembatan itu, padahal menurutku jembatan itu biasa saja. Tidak sepanjang Suramadu, atau seunik Barito. Jembatan mahakam memang biasa saja, tapi mengapa aku jatuh cinta padanya? Aku tidak pernah tahu, bukankah cinta tidak butuh alasan?

Cinta. Aku masih tidak terlalu dewasa untuk berbicara tentang cinta. Cinta adalah sebuah kata yang sakral untuk aku definisikan. Bagiku dia hanya sang pemberi kesakitan, sang pemberi kedukaan. Bagimana tidak? di negeriku sering terjadi kasus pembunuhan, asusila, dan bahkan rusaknya moral anak bangsa pun kadang mengatas namakan cinta. Tak jarang pula aku melihat wanita yang menggoreskan kaca dilengannya hingga berdarah, menyakiti dirinya atas nama cinta. Ya, betapa bedebahnya cinta, ia mampu membuat orang menangis, menderita bahkan menjadi sangat rapuh.  

Aku masih mengutuk cinta, aku belum percaya bahwa cinta itu indah, aku belum percaya bahwa cinta itu bahagia. Bahkan selama ini aku masih terlena dalam nestapa jika mengingat senyum seseorang yang dulu aku menyebutnya cinta. Dia adalah seseorang yang akan terasa sakit bila ku ingat namun juga suIit untuk kulupa. Dia adalah realita masa lalu yang sampai saat ini masih menyisahkan luka. Luka itu masih membekas, seperti kata pepatah meskipun paku yang ditancapkan di dinding itu telah dicabut, lubang didinding itu tidak akan hilang. Sama seperti yang aku rasakan bahkan mungkin dia juga merasakannya.

Rupiah kadang menjadi alasan seseorang meninggalkan cinta. Semasa kecil aku selalu iri dengan kawan-kawanku yang bahagia dengan cinta dari Ayah Ibunya. Aku selalu merasa terkucilkan ketika waktu pembagian rapor kenaikan kelas telah tiba. Meja untuk orang tuaku selalu kosong, kalaupun ada yang mengisi adalah kakaku atau kakak alumni yang akrab denganku. Padahal aku selalu berharap Ayah atau Ibu yang mengisinya. Ah Biarlah, Ayah Ibu sedang sibuk  berkelana demi rupiah, meninggalkanku yang katanya buah cinta mereka. Mereka mana peduli, cinta memang seperti itu. 

Lalu ku coba sejenak melupakan tentang cinta dengan berlari jauh darinya. Entah dengan cara apa, yang jelas aku tidak boleh berdiam seperti ini, yang jelas aku harus bergerak. Ya, gerak adalah langkah, langkah adalah jalan, gerak langkah yang berjalan adalah perjalanan. Perjalanan untuk berlari dari sesuatu yang ku sebut cinta. Aku tidak boleh selalu terpaku pada kekacauan tentang cinta, aku tidak boleh terus terdiam dalam tempurung seperti ini. Aku harus bangkit dan memulai. Aku harus memulai perjalanan. Harus.

Gunung Bromo, menjadi tempat pelarian pertama yang paling indah. Sanusi dan Rosidi adalah kawan sempurna yang mengantarkanku pada tempat nan indah ini. Kami terlarut dalam buaian cerita didepan bara unggun, tidak pernah membeku walau dinginnya bromo mulai membuat kakiku kaku. Hanya alam dan kami bertiga, aku telah temukan kenyamananku disini, aku menemukan diriku, aku tak lagi peduli dengan dia. Aku jatuh cinta, cinta dengan semua ini. Gunung bromo telah membuatku candu, candu akan sebuah latar yang hanya ada langit dan kesejukan serta kedamaian yang mengiringinya. Membuat kakiku ingin terus melangkah lebih jauh lagi dan semakin jauh. Hingga akhirnya kaki ini berhasil berpijak di negeri para daeng, tanah Sulawesi. 

Saat perahu melaju menyusuri sungai dari dermaga Ramang-Ramang sepulang dari kampung Berua di kabupaten Pangkajene Kepulauan. Aku mendapatkan kedamaian dari sejuknya memandangi pohon nipah yang berbaris beraturan. Sesekali aku melirik pada gadis di belakangku, sesekali aku terlena dengan senyumnya, dan tergerus dalam pusaran lubang di pipinya. Aku rasa, aku jatuh cinta. Cinta pada Berua  dan juga, kepadanya. Ah bukankah cinta itu bedebah! lantas mengapa semua ini terasa indah? kenapa perasaan ini tiba-tiba ada? Bukankah aku sedang berlari dari dia si masa lalu? Sudahlah aku lelah. Aku benar-benar sedang tidak ingin kecewa. Perlahan gadis itu menghampiriku, dengan mata yang sedikit nanar seperti ada buliran air yang tertahan dengan senyum manis miliknya “Dik, besok kamu sudah pulang ya?”. Perasaanku seketika kaku mendengar kata adik yang keluar mengawali kalimat tanya itu. Aku terdiam menerawang batu karst di ujung sana, mengingat pertemuan kami di gedung kesenian Sulsel, mengenang percakapan kami di pantai losari, dan menikmati perasaan yang tiba-tiba datang di Berua lalu berakhir di Berua pula. Tanpa ragu aku merangkulnya bagaikan sahabat lama yang baru berjumpa dan pada akhirnya aku menempatkan dia sebagai kakak perempuan yang luar biasa. Bukankah ini lebih indah? Seindah kecantikan sebuah pulau bernama Derawan di pesisir Kalimantan Timur.

Bapak Alimansyah namanya, pemilik homestay Nirwana di pulau Derawan, menyambut kedatanganku dengan ramah. Secangkir teh hangat dan sepiring kulimis, kerang-kerang kecil yang direbus dengan garam dan bawang menjadi hidangan sederhana yang kami nikmati berdua. Aku terkesima mendengar cerita-cerita semasa mudanya saat menjadi abdi negara ketika Indonesia sedang konflik dengan negara tetangga. Semasa kecil beliau juga sering ditinggal ayahnya melaut, kadang juga tidak tahu kabar tentang kondisi ayahnya di samudera sana. Kini beliau sudah tua, merasakan apa yang dulu ayah beliau rasakan. Aku hanya bisa takjub dengan cerita-ceritanya yang pada akhirnya aku menyimpulkan bahwa seorang Ayah rela membunuh kerinduan pada anaknya, demi melihat anaknya hidup. Ya, hanya ingin melihat anaknya bisa makan dan hidup. 

Aku juga belajar dari pak Hendra dan kawan-kawannya, pak Hendra adalah motoris speedboat yang mengantarku menuju pulau-pulau sekitar Derawan. Kami sedang menunggu air pasang untuk melanjutkan perjalanan menuju pulau Sangalaki yang terkenal dengan habitat ikan pari mantanya. Kami berada di pos penjagaan pulau kakaban larut dalam cengkrama bersama  kawan-kawan pak Hendra, yang  jika sedang tidak ada pekerjaan mereka akan pergi melaut. Rata-rata masyarakat suku bajau memang hobi melaut dan akan dijumpai didaerah pesisir, mereka juga terkenal dengan kemampun menyelam yang luar biasa. Aku baru tahu bahwa melaut itu bukan hanya tentang pergi ke laut, mancing dan pulang. Melaut itu butuh waktu berhari-hari kadang sampai satu minggu. Selama satu minggu itulah bapak-bapak ini akan selalu mengingat keluarganya. Dari perbincangan panjang kami di pos kakaban, hanya sebuah kalimat yang masih selalu aku ingat
“ketika menjadi seorang ayah, pasti ingin selalu bertemu dengan anaknya, jangankan satu hari satu jam saja sudah terasa kangennya” kalimat ini yang selalu membuatku bertanya, mungkinkah demikian pula dengan Ayah?

Perjalanan menggapai sudut-sudut indah di bumi pertiwi ini yang awalnya hanyalah sebuah pelarian dari sesuatu yang kusebut cinta justru membawaku pada arti baru tentang sesuatu yang kusebut cinta. Sanusi dan Rosidi adalah dua sahabat yang membawaku pada alam dengan pesona menakjubkan, mengenalkanku pada perjalanan dan berhasil membuatku jatuh cinta pada sebuah perjalanan. Jullen Cottesea, gadis yang aku jumpai di negeri para daeng telah membukakan pikiranku bahwa cinta bukanlah sesuatu yang mengikat, cinta itu universal. Pak Ali, pak Hendra dan kawan-kawannya telah berhasil membuatku meminta maaf kepada Ayah dan Ibuku atas kesalah pahamanku tentang mereka. Mereka berkelana mencari rupiah, bukan berarti tidak peduli terhadapku justru mereka sangat tersiksa harus selalu membunuh rasa rindu untuk bertemu denganku dan itu adalah wujud sebuah cinta yang baru aku sadari.  Ada sebuah filosofi yang pernah aku dengar entah dari mana, Cinta ibaratkan pasir jika digenggam terlalu erat maka pasir itu akan lebih banyak yang terjatuh, namun jika tangan kita terbuka pasir itu akan tetap banyak berada di telapak tangan. Untukmu si masa lalu, aku tidak membencimu dan kita bisa belajar dari pasir, juga dengan rumput yang masih bisa tumbuh diretakan dinding sungai mahakam. Aku sekarang tidak sedang berduka lagi, mungkin paku yang telah dicabut memang masih menyisahkan bekas pada sebuah dinding namun aku percaya ketika sebuah dinding dipaku membentuk sebuah pola, ia akan menjadi sebuah karya seni yang luar biasa. Demikian juga dengan cinta.

Sampai saat ini hubunganku dengan Sanusi dan Rosidi baik-baik saja, mereka tengah aktif sebagai alumni anggota pecinta alam dan kami masih berharap untuk dapat mendaki sebuah gunung bersama lagi. Pun dengan mbak Jullen, kami masih saling terhubung meski hanya melalui dunia maya, sekarang mbak Jullen sedang berada di Papua, bekerja disana dan telah menemukan belahan hatinya, Pria tampan Asal Ambon. Kepada pak Ali, pak Hendra dan kawan-kawan di pos Kakaban, aku hanya bisa menitipkan salam kepada ombak yang akan selalu menepi dan berirama di belakang homestay nirwana serta tepian pulau Kakaban. Perjalanan telah membawaku pada orang-orang yang tidak terduka, membuatku paham bahwa perjalanan bukan hanya tentang mengeksplorasi sebuah detinasi, lebih dari itu aku mengekplorasi diriku sendiri.  

***
Lalu bagaimana dengan kasus asusila, dan rusaknya moral yang mengatas namakan cinta, dan juga gadis yang menggoreskan kaca dilengannya demi cinta?
Mereka hanya perlu melakukan perjalanan untuk mencari tahu arti dari sesuatu yang kusebut cinta.
Lalu bagiamana dengan anda?



Itinerary Kepulauan Derawan


Ini postingan saya yang pertama kali tentang informasi dan itinerary sebuah destinasi. Saya percaya bahwa setiap traveller punya jalan masing-masing untuk mencapai destinasi yang ingin di tuju. Namun untuk membantu teman-teman yang sedang survey tentang itinerary, rincian biaya serta lokasi bagus di kepulauan derawan akhirnya postingan ini saya buat sebagai gambaran rencana perjalanan teman-teman. Semoga postingan saya ini membantu.




 1. Itinerary Derawan via. Tanjung Redeb – Berau
*Waktu Indonesia Bagian Tengah
Day 1
Ambil penerbangan pagi – 11. 00 : Dari kota masing-masing – Tanjung Redeb
11.00 – 14.00      : travel Tanjung Redeb – Tanjung batu
14.00 – 14.45      : Speedboat Tanjung batu – Derawan
14.45 – 15.00      : Check in penginapan
15.00 – 18.00      : Eksplore derawan (bisa diving atau jalan-jalan atau mancing)
18.00 – 19.00      : Sunset
19.00 – Malam   : Acara bebas bisa makan malam atau nongkrong-nongkrong pinggir pantai atau cafe-cafe atau juga langsung tidur

Day 2
05.00 – 06.00      : Sunrise
06.00 – 07.30      : Nikmati suasana pagi dan sarapan
07.30 – 08.00      : Persiapan hopping island (Kakaban, Sangalaki, Maratua), bawa bekal
08.00 – 15.00      : Eksplore Kakaban, sangalaki, dan Maratua dan gusung
15.000 – 17.00    : Balik ke Derawan
17.00 – 18.00      : Bersih-bersih
18.00 – 19.00      : Sunset
19.00 – malam   : acara bebas

Day 3
05.00 – 06.00      : Sunrise
06.00 – 07.30      : Persiapan berjemur
07.30 – 08.00      : Sarapan
08.00 – 09.00      : santai, berjemur sambil minum kelapa muda di pantai PT.BMI
 09.00 – 11.00     : Snorkeling Derawan
11.00 – 11.30      : repacking dan  Check out
11.30 – 12.00      : Derawan – Tanjung Batu
12.00 – 15.00      : Tanjung batu – tanjung redeb (makan siang di jalan)
15.00 – Selesai : kembali ke Kota Masing-masing

2. Rincian Biaya :
*tidak termasuk tiket pesawat dari kota masing-masing
1. Travel Tanjung Redeb – Tanjung Batu : bila di jemput di bandara Rp.100.000/ orang, bila dari kota Rp.75.000/orang

2. Speed boat Tanjung Batu-Derawan : harga reguler Rp.70.000/ orang, jika carter Rp.300.000 – Rp.350.000 bisa nego

3. Penginapan Derawan
Kipas angin :  Rp.150.000/hari , AC : Rp.250.000/hari. Tiap kamar muat hingga 2 orang bahkan lebih jika booking satu kamar untuk orang banyak sekitar 7-10 orang biasanya dikenakan tarif per kepala Rp.25.000

4. Fun dive at derawan : Rp.450.000 – Rp.500.000 dengan gear lengkap

5. Carter speedboat untuk ke Kakaban, Sangalaki, Maratua : Rp. 1.300.000-1.500.000 speedboat muat 5-6 Orang bisa nego. Jika hendak bermalam di Maratua biasanya minta tambahan uang tunggu Rp.300.000

6. Biaya makan : Nasi kuning, Nasi campur, Nasi goreng Rp.20.000 + es teh

7. Sewa alat Snorkeling : Rp.50.000 lengkap dengan fin

3. Spot
1. jika snorkeling di Derawan spot paling bagus berada di sekitar PT. BMI berenang ketengah ke bangunan paling ujung
2.jika hendak bermain-main dengan anak-anak, sore hari bisa kepantai  arah  PLN searah dengan dermaga utama, dan menikmati Sunset dari dermaga utama
3.Jika hendak bersantai, berjemur, sambil minum kelapa muda bisa ke pantai sebelum dan sesudah PT. BMI
4.Jika ke Sangalaki mintalah pada motoris berhenti di spot Manta Ray jika beruntung berenanglah bersama manta bisa juga snorkeling di spot ini sebelum bersandar di pulau Sangalaki.

4. Kontak

Mobil tanjung redeb – tanjung batu dan sebaliknya
081250714847 Bapak Heri
081351312631 Bapak Ruslan

Speedboat
082157591122 Bapak Hendra
085246299012 Bapak Harnoto

Penginapan
Homestay Nirwana 081350098449 Bapak Alimansyah Rp.150.000/nego
Losmen Danakan 081347251422 Rp.150.000 Kipas Angin, Rp.250.000 AC
(Untuk penginapan bisa go show, banyak homestay dengan variasi harga dan nego)

Dive
Ada sekitar 4 Dive center di Derawan
081347229602 mas Icuk, danakan dive center




Camping Sebelum Caving

Goa itu?
gelap, batu-batuan, horor, kelalawar, dan pengap.  Sebagai orang yang teracuni film Angling Dharma semasa kecil membuat kekepoan saya berlanjut hingga dewasa. Saya berpikir berkali-kali tentang ajakan kawan-kawan untuk caving di goa pampang. Yang terlintas dalam pikiran saya adalah seandainya saat caving, tiba-tiba goa bergetar lalu perlahan bebatuan runtuh semua lari kalang kabut lalu lubang-lubang tertutup bebatuan dan saya terjebak didalamnya, entah apa yang bisa saya lakukan didalam goa. Saya tak punya ajian rengka gunung seperti gusti prabu Angling Dharma yang mampu menghancurkan dinding goa, bahkan menerbangkan batu-batu hingga menumbangkan pepohonan hehehe. Atau saya memilih mati  sambil memasukan tangan ke celah-celah lubang sambil menggenggam erat tangan seorang wanita yang saya cintai dan berkata i love you sayang? Dengan diiringi darah dan air mata yang mengalir seperti di film-film layar kaca  yang dramatik abis :D, yang jelas saya masih kepo dengan goa.

Ini ngomongin apa sih #eh
Baiklah daripada weekend saya habiskan dengan menjadi bapak rumah tangga dan berhubung belum ada yang sudih untuk bertanya mau kemana? Sedang apa? Sudah makan belum? *eaa, ada baiknya saya bergabung dengan kawan-kawan yang hendak menghabiskan sabtu malam minggunya di hutan pampang *Jomlo*. Saya gak membawa peralatan aneh-aneh karena niatannya dari rumah Cuma ikutan camping, tidur di alam sambil bercanda bareng-bareng lalu ketika kawan-kawan pada mau caving yap mungkin saya jaga tenda sekali lagi karena saya gak punya ajian rengka gunung. 

Perjalanan dimulai dari Samarinda menuju desa Berambai melewati jalan Batu Besaung yang kurang lebih ditempuh selama satu jam dengan menggunakan motor. Dari Samarinda mas Dika yang membonceng saya sengaja membawa gitar untuk membuat suana kamp lebih khidmat dan ini jadi kesempatan saya untuk dapat tiga yes dari juri *eh. Jalanan yang berkelok-kelok, menanjak, dan kadang rusak membuat gitar yang saya pegang berkali-kali posisinya mleset hingga saya harus berkali-kali membetulkannya lagi. Mas Dika yang memegang kendali motor terkdang main hantam saja jika melewati jalanan berlubang sampai-sampai tubuh saya melayang sesaat dari jok *fiuh. Tapi saya memilih menikmati saja, gak lucu kalau mas Dika tiba-tiba ngamuk lalu saya diturunin di tengah jalan yang sepi ini.


Akhirnya kami sampai  di sebuah rumah warga yang menjadi gerbang masuk menuju lokasi kamp, setelah menitipkan kendaraan, saya, mas Dika, dan mpok Noru anggota kloter ke gak tahu memulai treking menyusul beberapa team yang sudah berangkat lebih awal. Treking dimulai dengan melewati perkebunan pepaya milik warga lalu menyebrangi sungai dengan batang pohon yang menghubungkan jalur kebun dan jalur hutan. Mulai masuk hutan kondisi medan mulai mengekstrem, mulai melewati jurang belum lagi jika ada pohon yang tumbang, menanjak berkelok, pokonya jika musim sedang hujan harus hati-hati karena jalur bisa saja licin.  Terus mengikuti  rute hingga akhirnya bertemu tanah yang datar disamping sungai dan disana saya disambut oleh pendukung-pendukung saya *eh. Karena memang sebelumnya sudah ada yang berangkat duluan jadi kami bertiga yang nyusul sudah tinggal mendirikan tenda sendiri lalu menyerahkan sesajen  kepada para chef yang dipimpin mpo Noru, chef paling gokil se kecamatan hehehe :D
Gelap mulai meraba suasana kamp saat itu, saatnya makan malam.  Makan malam paling istimewa adalah saat-saat seperti ini, saat satu wadah untuk semua dengan lauk yang tak mewah tapi kenikmatannya sungguh bisa dirasa. Seusai menuntaskan makan malam ini, malam kami habiskan dengan berbagi kisah perjalanan dari menikmati keindahan pulau-pulau di Indonesia, sensasi menjadi seorang caver, menggapai puncak-puncak gunung, hingga memeluk sebuah destinasi sakral bernama cinta *eh.  Selain kisah-kisah menarik itu malam juga kami habiskan dengan nyanyian-nyanyian akustik hingga pukul 23.00 semua tertidur dengan pulasnya. Saya yang memang masih tak bisa terlelap memilih duduk di pinggiran sungai menikmati setiap gemericik air bersama dingin yang tenang. Hmmm, nafas benar saya hela panjang-panjang jarang sekali suasana seperti ini saya dapatkan. Saatnya  melakukan ritual perenungan-perenungan suci, memaknai kehidupan ini dan melakukan pembelajaran dri kesalahan masa lalu. Baru saja mau memulai ritual bubuhan lainnya pada datangan dengan heboh *arrggghh sontak fokus saya semburat. Ah ini team terakhir yang menyusul jadilah suasana makin riuh, ritual saya gagal dan yang sudah tertidur pulas pun akhirnya terbangun kembali. Gitar kembali dipetik sebuah lagu special happy birthday buat mbak friska yang lagi ulang tahun dilantunkan sambil meniup api dari korek gas dan malam ditutup dengan lagunya mami berjudul gelang dirantai rindu *ebusyeett judulnya ngeri.
Sudah lewat tengah malam dan obrolan malam dimulai, pasti tema yang dibahas tentang cinta yang terlalu sakral untuk saya dengar. Untuk hal ini saya tidak mau pikiran saya terdoktrin jadi saya memilih tidur saja diselimuti sarung Bali dari seseorang yang saya sebut cinta *eaaa



*Selamat malam dunia dan selamat malam cinta :)

Loksado

Perjalanan saya kali ini adalah menuju Kalimantan Selatan. Destinasi pertama yang saya tuju adalah kawasan wisata alam loksado.  Saya akan coba berbagi tentang Loksado pada kalian. Enjoy!



Loksado adalah nama sebuah kecamatan di kabupaten Hulu Sungai Selatan yang memiliki wajah hijau alami. Pepohonan tumbuh dengan rimbun membuat udara begitu bersih dan layak untuk dinikmati, Salah satu spot paling wajib dikunjungi  jika berada di Loksado adalah sungai amandit. Sungai yang masih bersih ini memiliki tingkat keasrian yang maha keren. Tak akan rugi jika kalian merogoh kocek ratusan ribu untuk dapat lebih dekat menikmati ke maha kerenan sungai ini, salah satu caranya adalah rafting. Namun bagi saya rafting dengan menggunakan perahu karet mungkin sudah biasa tapi di Loksado kalian bisa merasakan sensasi rafting yang lebih tradisional. Yap, bamboo rafting namanya.  Cukup membayar Rp. 250.000  untuk sewa Balanting/balabuh/rakit dan jasa joki rute Loksado-Tanuhi kurang lebih 2,5 jam kalian akan berseru-seru ria diatas balanting. Satu balanting bisa muat untuk  empat  orang termasuk joki, jadi kalian bisa sharing cost untuk menekan biaya. Sepanjang perjalanan kalian akan disuguhi segarnya air amandit, hijaunya pepohonan, lalu bambu-bambu yang tumbuh subur disekitaran, ditambah serunya kala balanting melewati jeram. Pokoknya sampai gila kalian berada di balanting, rasanya tak mau turun dan pemandangannya maha keren bro. 

Setelah gila 2,5jam diatas balanting, saatnya menyaksikan keelokan Loksado yang berikutnya yakni air terjun haratai. Jika kalian finish di Tanuhi menuju air terjun haratai dapat di tempuh dengan menggunakan ojek. Selama di perjalanan lagi-lagi kalian akan disuguhi warna hijau yang kuat mendominasi. Selain pohon-pohon rimbun kalian juga dapat melihat sawah-sawah yang dikelola suku dayak Meratus sekaligus perkampungan warga dayak meratus. Selain bertani mata pencaharian warga adalah menjual kayu manis yang mereka ambil dari hutan dan dikeringkan didepan rumahnya. Katanya kayu manis ini nikmat sekali jika dibuat teh, tapi saya belum pernah mencoba dan suatu saat saya akan mencobanya. Medan yang dilalui selama perjalanan menuju air terjun memang menanjak sesekali membelok dan hanya setapak kadang penumpang harus turun kala motor melewati jembatan yang hampir rapuh tapi semua tidak jadi masalah karena pemandangan sepanjang perjalanan benar-benar hijau bro. Tak lama kalian akan mendengar suara alam yang bersatu dengan suara percikan air terjun, dan itulah haratai. Suasananya asri, irama alamnya damai yang jelas air terjun haratai ini. Incredible.



Saatnya relaksasi. Pastinya kalian lelah berjam-jam bermain dengan dingin, tapi tenang Loksado itu destinasi yang bertanggung jawab. Loksado tak akan membiarkan traveller yang berkunjung menderita kedinginan. maka dari itu disediakan objek pemandian air panas Tanuhi. Menuju Tanuhi dapat menggunakan jasa ojek. Lagi-lagi ojek. yap, karena memang transportasi yang ada hanyalah ojek. Masuk dikawasan pemandian air panas kalian akan dikenakan biaya Rp.5.000 per orang, dan bersantailah. Nikmati hangatnya air tanuhi, renggangkan urat-urat yang menegang sembari mengingat kisah keren sedari tadi. Pejamkan mata, nikmatilah dan rasa lelah akan hilang sempurna. Enjoy Loksado.


Note :
*Sedikit saran dari saya jika memang hendak mengunjungi banyak spot sebaiknya kalian mencarter tukang ojek dan nego ongkos di awal.
disungai Amandit banyak pilihan rafting, dari yang menggunakan perahu karet, ban donat dan balanting.
*Kalian dapat menghubungi nomor ini 085251700148 (Papa Jermandi) untuk informasi penginapan, balanting, balai adat, ojek dlsb.